Jakarta, 12 April 2026 — MATAENGGANG.COM Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menegaskan bahwa pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), yang dinilai keliru telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya sebagai bagian dari mekanisme konstitusional dalam menjaga ruang publik yang sehat dan berkeadaban.
Namun lebih dari itu, Gusma menekankan pentingnya meluruskan pemahaman publik terkait ajaran Kristiani, terutama dalam konteks nilai-nilai dasar iman yang kerap disalahartikan.
“Dalam ajaran Kristiani, kasih adalah hukum yang utama. Iman kami tidak mengajarkan kekerasan sebagai jalan kesaksian, melainkan pengorbanan, kerendahan hati, dan kesediaan menderita tanpa membalas,” tegas Gusma.
Ia menjelaskan bahwa konsep mati syahid dalam tradisi Gereja tidak pernah dimaknai sebagai tindakan menyerang atau menghilangkan nyawa orang lain, melainkan kesetiaan pada iman hingga rela berkorban demi kebenaran.
Merujuk pada Injil Matius 5:44, Gusma menegaskan bahwa ajaran kasih bahkan melampaui batas relasi manusia. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Ini menunjukkan bahwa kasih dalam iman Kristiani bersifat radikal, melampaui logika balas dendam,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kasih dalam tradisi Kristiani tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia sebagai citra Allah, tetapi juga kepada seluruh ciptaan. “Allah adalah kasih dan sumber kehidupan. Karena itu, mencintai berarti menghormati seluruh makhluk hidup sebagai bagian dari ciptaan-Nya,” katanya.
Gusma mengingatkan bahwa narasi keagamaan yang disampaikan di ruang publik perlu berpijak pada pemahaman yang utuh dan tidak simplistis, agar tidak menimbulkan distorsi makna yang berpotensi memicu ketegangan sosial.
“Ketika ajaran agama direduksi atau digeneralisasi secara keliru, yang muncul bukan hanya kesalahpahaman, tetapi juga potensi retaknya kepercayaan dan persatuan,” ujarnya.
Pelaporan yang turut dilakukan bersama Ketua Umum GAMKI, Sahat Sinurat, disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kebangsaan dalam merawat harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
Gusma menutup dengan menegaskan bahwa momentum Paskah 2026 menjadi pengingat kuat akan identitas iman Kristiani yang berakar pada kasih dan pengorbanan. “Yesus Kristus menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukan melalui kekerasan, tetapi melalui kasih yang memberi diri sepenuhnya,” pungkasnya.


















